Siliwangi University
UniversityTasikmalaya, Indonesia
Research output, citation impact, and the most-cited recent papers from Siliwangi University (Indonesia). Aggregated across the NobleBlocks index of 300M+ scholarly works.
Top-cited papers from Siliwangi University
Jenis penelitian deskriptif kualitatif (QD) umumnya dipakai dalam fenomenologi sosial. Salah satu penelitian sosial adalah penelitian bimbingan dan konseling. Penelitian deskriptif kualitatif dalam perspektif bimbingan dan konseling dapat diartikan penelitian dalam bidang bimbingan dan konseling yang tujuannya untuk menyajikan gambaran detail mengenai setting proses bimbingan atau konseling di sekolah dimaksudkan untuk eksplorasi bagaimana suatu bimbingan atau konseling terjadi, apakah bimbingan atau konseling yang telah dilakukan dapat sejalan untuk mengatasi sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah diteliti. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Langkah langkah analisis data kualitatif meliputi reduksi data, display dan penarikan kesimpulan. Kekuatan penelitian kualitatif paling utama terletak dari fleksibilitas dari gaya peneliti untuk mendekripsikan alur penelitian dengan masalah penelitian yang sangat terbuka. Sedangkan kelemahan penelitian kualitatif terletak dari seberapa cermat peneliti menangkap momen ataupun data yang penting pada saat penelitian terjadi.
BACKGROUND: Virtual reality (VR) has several applications in the medical domain and also generates a secure environment to carry out activities. Evaluation of the effectiveness of VR among older populations revealed positive effects of VR as a tool to reduce risks of falls and also improve the social and emotional well-being of older adults. The decline in physical and mental health, the loss of functional capabilities, and a weakening of social ties represent obstacles towards active aging among older adults and indicate a need for support. Existing research focused on the effects of VR among older populations, and its uses and benefits. Our study investigated the acceptance and use of VR by the elderly. METHODS: This pilot study was conducted on 30 older adults who voluntarily participated during March to May 2018. Nine VR applications that promote physical activities, motivate users, and provide entertainment were chosen for this study. Participants were asked to use any one of the applications of their choice for 15 min twice a week for 6 weeks. At the end of 6 weeks, participants were asked to fill out a questionnaire based on the Technology Acceptance Model and a literature review, to evaluate their acceptance of VR technology. Cronbach's alpha reliability analysis was used to test the internal consistency of the questionnaire items. Pearson's product moment correlation was used to examine the validity of the questionnaire. A linear regression and mediation analysis were utilized to identify relationships among the variables of the questionnaire. RESULTS: In total, six male and 24 female participants aged 60~95 years volunteered to participate in the study. Perceived usefulness, perceived ease of use, social norms, and perceived enjoyment were seen to have had significant effects on the intention to use VR. Participants agreed to a large extent regarding the perceived usefulness, perceived enjoyment, and their experience of using VR. Thus, VR was seen to have high acceptance among this elderly population. CONCLUSIONS: Older people have positive perceptions towards accepting and using VR to support active aging. They perceived VR to be useful, easy to use, and an enjoyable experience, implying positive attitudes toward adopting this new technology.
The rapid growth of technology encourages teachers especially who teach English as a foreign language to use it while presenting material and giving instruction in the classroom. Technology, as the newest instructional media developed in this globalization era, presents situation which helps the students to have new authentic and meaningful learning experiences engaging their effort and behavior by providing more fun and effective learning atmosphere. In addition, it provides the opportunity for the students to work collaboratively and easily access the information that can supplement their learning experience. Those benefits become the central part of 21st century education which should be optimized in order to create sophisticated learning immersion and maximize the quality of students in the future. In this research, some media techologies are introduced to one hundred student-teachers having Technology Enhanced Language Learning class. Those media, Prezi as online software presentation, Glogster as visual online poster,Edmodo as online networking application, Toondooas online cartoon strip making and Goanimateas animated video creation, are known as web-based instructional media which can be used by them to teach English as a foreign language. However, questionnaire and interview are used to obtain the data. It aims to investigate their perception while preparing their teaching by using those applications.
Abstrak. Adversity quotient dan kemampuan pemecahan masalah matematis menjadi salah satu faktor dalam pencapaian tercapainya tujuan pendidikan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis dan adversity quotient dalam menyelesaikan soal cerita mengenai keliling dan luas bangun datar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 35 siswa di kelas VIII-B di salah satu SMP di Kabupaten Bandung Barat. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa (1) Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP pada materi keliling dan luas persegi panjang dengan pembelajaran open ended mencapai ketuntasan belajar; (2) Siswa AQ quitters dalam memecahkan masalah mampu memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dan menjelaskan masalah dengan kalimat sendiri; (3) Siswa AQ campers dalam memecahkan masalah mampu melaksanakan tiga tahapan Polya yaitu memahami masalah, merencanakan pemecahan, dan melaksanakan rencana; Siswa AQ climbers dalam memecahkan masalah mampu melaksanakan keempat tahap Polya yaitu mampu memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, menyelesaikan masalah melalui strategi pemecahan masalah, serta memeriksa kembali hasil dan proses dan menyimpulkan hasil penyelesaian. Kata Kunci: Adversity quotient, Open Ended , Pemecahan Masalah Matematis. Abstract. Adversity quotient and mathematical problem solving ability become one of the factors in achieving the goal of mathematics education. This study aims to describe the ability to solve mathematical problems and adversity quotient in solving the story about the circumference and the area of flat wake. The research method used is qualitative descriptive method. The subject of this research is 35 students in class VIII-B in one of junior high school in West Bandung regency. The result of the research shows that (1) the ability of problem solving of mathematics of junior high school students on material around and rectangular area with open ended learning achieve learning mastery; (2) AQ quitters students in solving problems are able to understand the problem by writing down what is known and what is being asked and explaining the problem with their own sentences; (3) AQ campers students in solving problems are able to carry out three stages of Polya namely understanding the problem, planning the solution, and implementing the plan; AQ climbers students in solving problems are able to implement the four stages of Polya that is able to understand the problem, plan problem solving, solve problems through problem solving strategies, and re-examine the results and processes and conclude the outcome. Keywords. Adversity quotient, Open Ended, Mathematical Problem Solving
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi pada mata kuliah Sejarah Islam di Indonesia di semester genap tahun ajaran 2018/2019 bahwa aktivitas belajar mahasiswa masih terlihat rendah yang ditunjukan oleh mahasiswa pendidikan sejarah sebagian besar kurang memperhatikan jalannya kegiatan pembelajaran dan mengacuhkannya, seperti mengobrol, main handphone, dan lain-lain. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif deskriptif. penelitian deskriptif yaitu, penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Aktivitas belajar siswa yang muncdxsilkan dari lembar observasi siswa yang meliputi beberapa indikator yang telah mampu mencapai indikator-indikator aktivitas belajar tersebut yang menghasilkan 1) Indikator Visual dengan hasil presentase sebesar 85,3%, 2) Indikator Listening dengan hasil presentase sebesar 82,4%, 3) Indikator Oral dengan hasil presentase sebesar 77,5% 4) Indikator Writing dengan presentase sebesar 88,2 %, 5) Indikator Mental dengan hasil presentase sebesar 80,9 &%., dan 6) Indikator Emosional dengan hasil presentase sebesar 76,5 %. Jumlah ke enam indikator tersebut dapat diakumulasikan dengan hasil presentase sebesar 81,8 % termasuk ke dalam kategori sangat tinggi.
Abstrak: Pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan penyesuaian terhadap minat, profil belajar, kesiapan murid agar tercapai peningkatan hasil belajar.Melalui kegiatan pembelajaran berdiferensiasi, semua kebutuhan mereka terakomodir sesuai minat atau profil belajar yang mereka miliki.Pada kelas yang menerapkan pembelajaran diferensiasi, guru harus berpikir bahwa murid-murid memiliki kebutuhan belajar yang beragam dan berbeda satu dengan yang lainnya. Terdapat empat (4) komponen pembelajaran berdiferensiasi, yaitu: isi, proses, produk, dan lingkungan belajar. Pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang akan mereka hasilkan sesuai minat mereka. Proses pembelajaran berdiferensiasi harus memberikan ruang yang luas kepada murid untuk mendemostrasikan apa-apa yang telah mereka pelajari. Produk yang dihasilkan oleh murid dapat disajikan dalam sebuah artikel, lagu, puisi, infografis, poster, video performance, video animasi atau bentuk lain sesuai keterampilan dan minat kelompok masing-masing.
Mathematics is a form of culture integrated in all aspects of society, wherever there are, including the sundanese ethnic communities. This enables the mathematical concepts embedded in cultural practices and recognizes that all people develop a special way of doing mathematics called ethnomathematics activities. Sundanese ethnomathematics is mathematics in sundanese culture implemented in community activities. Sundanese ethnic sundanese people living in the area of West Java Indonesia, speaking sundanese language, and having activities reflecting sundanese culture. Sundanese ethnomathematics in this study has three activities, namely estimating, measuring, and making patterns appearing in the activities in term of kibik (a unit for measuring volume), bata (a unit for measuring surface area), and path pihuntuan (a model of cane work). DOI : http://dx.doi.org/10.22342/jme.8.2.4055.185-198
Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF) dan Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Profitabilitas (ROA) . Selama periode pengamatan menunjukkan bahwa data penelitian berdistribusi normal. Berdasarkan uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi tidak ditemukan variabel yang menyimpang dari asumsi klasik. Hal ini menunjukkan data yang tersedia telah memenuhi syarat menggunakan model persamaan regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CAR dan NPF berpengaruh negatif signifikan terhadap Profitabilita s (ROA) s e dangkan FDR menunjukkan pengaruh yang positif signifikan terhadap Profitabilitas (ROA) . Kemampuan prediksi dari ketiga variabel tersebut terhadap profitabilitas (ROA) dalam penelitian ini sebesar 80,9%, sedangkan sisanya 19,1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian.
This study is a pre test-post-test experimental control group design having a goal to analyze the role of problem-based learning on students’ mathematical problem-solving ability (MPSA) and self-confidence (MSC). The study involves 66 tenth grade students, a mathematical problem-solving test, a mathematical self-confidence scale, and perception of problem-based learning (PBL) approach scale. The study found that on MPSA, its gain, and on MSC students getting treatment with PBL approach obtained better grade than that of students taught by conventional teaching. The other findings, there was the high association between MPSA and MSC, and student performed positive opinion toward PBL approach.
Pandemi COVID-19 telah berdampak pada berbagai bidang di dunia, tanpa terkecuali bidang pendidikan. Situasi ini menyebabkan berubahnya pembelajaran yang biasanya tatap muka di ruang kelas menjadi dilaksanakan dirumah, yaitu dengan pembelajaran daring. Pada saat pembelajaran daring, banyak siswa merasa kesulitan dalam pelaksanaannya, khususnya pada pelajaran matematika. Oleh karena hal tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesulitan-kesulitan siswa pada saat pembelajaran daring matematika di SMP Muslimin Cililin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data dengan metode survey, yaitu dengan menyebarkan angket online. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII yang terdiri dari lima kelas yang berbeda, kelas VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, dan VIII E yang terdiri dari 51 responden. Berdasarkan analisis hasil dari angket online, didapatkan hasil bahwa kebanyakan siswa menggunakan WhatsApp sebagai media saat pembelajaran daring, kendala umum yang di alami siswa selama pembelajaran daring di dominasi jaringan internet yang tidak memadai dan memori HP yang penuh. Selain itu, matematika juga menjadi kesulitan dan tantangan tersendiri bagi siswa saat pembelajaran daring dikarenakan beberapa faktor, yaitu: (1) terbatasnya ruang interaksi dengan guru, (2) banyaknya rumus yang digunakan dalam matematika, (3) objek yang di pelajari dalam matematika memiliki pola abstrak
The purpose of this study to determine the relationship of mathematical resilience to students problem solving abilities. This research was conducted in MTs Negeri Kota Cimahi class VIII-I even semester in academic year 2017-2018. The method used is qualitative descriptive method. Population taken is all students of class VIII MTs Negeri Kota Cimahi. Sampling using purposive sampling technique, which is a determination and sampling technique determined by the researchers with certain considerations. The sample consists of 34 students. Circle material used in research. Research instrument as many as 5 items about problem solving and resilience statement scale as many as 40 statement. The conclusion gained is that there are difficulties experienced by students in solving problem solving problem and there is correlation between mathematical resiliency to student problem solving ability equal to 0,649.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam tentang pengaruh positif dari faktor gender dan resiliensi matematis dalam pencapaian kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMA. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah semua siswa SMA di Bandung dengan sampel dipilih siswa kelas XII Sekolah Menengah Atas di suatu SMA Swasta di Bandung sejumlah 33 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif matematis berupa soal uraian sebanyak 4 soal, sedangkan instrumen nontes untuk mengukur tingkat resiliensi matematis berupa skala dalam kuesioner. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Analisis Kovarian (Ancova). Hasil penelitian ini menunjukkan pada tingkat kepercayaan 95% terdapat hubungan positif faktor gender dan resiliensi matematis siswa terhadap pencapaian kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMA. Nilai Koefisien Determinasi Berganda R Squared yang diperoleh sebesar 0,866 yang berarti 86,6% dari pencapaian kemampuan berpikir kreatif siswa dipengaruhi oleh faktor gender dan resiliensi siswa. Sisanya 13,4% dipengaruhi oleh faktor lain.
 Kata kunci: berpikir breatif matematis, gender, resiliensi matematis
 
 ABSTRACT
 This study aims to find out in depth about the positive effects of gender factors and mathematical resilience in the achievement of mathematical creative thinking ability of high school students. This research uses correlational method with quantitative approach. The population of this study is all of high school students in Bandung and the sample is one selected XII grade high school students in a private high school in Bandung with 33 students. The instrumen used in this research is a test to measure mathematical creative thinking ability by using 4 essays. While the nontest instrumen that is used to measure the level of mathematical resilience is in the form of questionnaire with scale. Data analysis used in this research is Covariance Analysis test (Ancova). By using 95% confidence level, this study shows that there is a positive relationship between gender factors and mathematical resilience of students to the achievement of mathematical creative thinking ability of high school students. The value of Multiple Determination Coefficient or R Squared equals to 0.866. It means that 86.6% of the achievement of students' mathematical creative thinking ability is influenced by gender factors and mathematical resilience, while the remaining 13.4% is influenced by other factors.
 Keywords: Gender, Mathematical Creative Thinking, Mathematical Resilience
Dalam penelnitian ini penulis menganalisis tentang kesulitan siswa dalam proses pemecahan masalah serta untuk mengetahui tingkat kategori disposisi matematik pada tiap butir pernyataan. Berdasarkan analisis, kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah matematik materi peluang dihasilkan dalam proses pencapaiandan kualifikasi dalam memahami masalah 48,75% (rendah), merencanakan penyelesaian 40% (rendah), menyelesaikan masalah 7,5% (sangat rendah), melakukan pengecekan 0% (sangat rendah). Instrumen soal yang digunakan adalah soal yang sudah diuji realibilitas, validitas, daya beda dan indeks kesukarannya juga telah divalidasi oleh validator ahli. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk mengetahui sejauh mana pencapaian indikator dari kemampuan pemecahan masalah serta mengetahui tingkat kategori disposisi matematik pada tiap butir pernyataan. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan bahwa pencapaian indikator dari kemampuan pemecahan masalah belum tercapai sepenuhnya serta kemampuan disposisi siswa yang tergolong rendah
Abstrak. Adversity quotient dan kemampuan pemecahan masalah matematis menjadi salah satu faktor dalam pencapaian tercapainya tujuan pendidikan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis dan adversity quotient dalam menyelesaikan soal cerita mengenai keliling dan luas bangun datar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 35 siswa di kelas VIII-B di salah satu SMP di Kabupaten Bandung Barat. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa (1) Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP pada materi keliling dan luas persegi panjang dengan pembelajaran open ended mencapai ketuntasan belajar; (2) Siswa AQ quitters dalam memecahkan masalah mampu memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dan menjelaskan masalah dengan kalimat sendiri; (3) Siswa AQ campers dalam memecahkan masalah mampu melaksanakan tiga tahapan Polya yaitu memahami masalah, merencanakan pemecahan, dan melaksanakan rencana; Siswa AQ climbers dalam memecahkan masalah mampu melaksanakan keempat tahap Polya yaitu mampu memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, menyelesaikan masalah melalui strategi pemecahan masalah, serta memeriksa kembali hasil dan proses dan menyimpulkan hasil penyelesaian. Kata Kunci: Adversity quotient, Open Ended, Pemecahan Masalah Matematis. Abstract. Adversity quotient and mathematical problem solving ability become one of the factors in achieving the goal of mathematics education. This study aims to describe the ability to solve mathematical problems and adversity quotient in solving the story about the circumference and the area of flat wake. The research method used is qualitative descriptive method. The subject of this research is 35 students in class VIII-B in one of junior high school in West Bandung regency. The result of the research shows that (1) the ability of problem solving of mathematics of junior high school students on material around and rectangular area with open ended learning achieve learning mastery; (2) AQ quitters students in solving problems are able to understand the problem by writing down what is known and what is being asked and explaining the problem with their own sentences; (3) AQ campers students in solving problems are able to carry out three stages of Polya namely understanding the problem, planning the solution, and implementing the plan; AQ climbers students in solving problems are able to implement the four stages of Polya that is able to understand the problem, plan problem solving, solve problems through problem solving strategies, and re-examine the results and processes and conclude the outcome. Keywords. Adversity quotient, Open Ended, Mathematical Problem Solving
<p class="AbstractEnglish"><strong>Abstract: </strong>Developing digital learning innovation with the Blended POE2WE model aims (1) to access knowledge without time and space limitation, (2) to establish internet-based communication, (3) to make learning easier and more enjoyable, and (4) to create more interactive and innovative learning process. The method was literacy (library study). Electronic Data Processing was used to manipulate data into more useful information. Data is a raw object, not processed yet and going to be processed. Meanwhile, information is processed data and becomes other useful data. Digital learning is the product of industrial revolution 4.0. It deals with a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources. Besides, the Prediction, Observation, Explanation, Elaboration, Write and Evaluation (POE2WE) learning model was developed from the POEW learning model and the Physics learning model with a constructivist approach. As a consequence, Blended Learning is used to synthesize face-to-face learning and online-based learning into an integrated mix so that can create a high, efficient, and attractive impact. Blended learning practically means that learning (classroom-based learning) is also facilitated with other electronic formats (e-learning) to create an optimal learning program. This is due to that the use of e-learning is very superior compared to Conventional Learning (face-to-face).</p><p class="AbstractEnglish"><strong>Abstrak: </strong>Pengembangan inovasi pembelajaran digital dengan model <em>Blended POE2WE</em><em> </em>bertujuan untuk<em> </em>(1) mengakses pengetahuan setiap saat tak terbatas waktu dan tempat (2) menjalin komunikasi berbasis internet (3) menciptakan pembelajaran lebih mudah dan menyenangkan. (4) menciptakan proses pembelajaran lebih interaktif dan inovati. Metode penelitian yang digunakan adalah literasi (studi pustaka). Pengolaan Data Elektronik digunakan untuk memanipulasi data menjadi suatu informasi yang lebih berguna. Data merupakan objek mentah, yang belum diolah dan akan diolah. Sedangkan, informasi adalah data yang telah diolah dan sifatnya menjadi data lain yang bermanfaat. Pembelajaran digital adalah produk revolusi industry 4.0. Pembelajaran digital merupakan <em>‘a large collection of</em> <em>computers in networks that are tied together so that many users can</em> <em>share their vast resources’</em><em>. </em>Selain itu, model pembelajaran <em>Prediction, Observation, Explanation, Elaboration, Write </em>dan<em> Evaluation</em> (POE<sub>2</sub>WE) dikembangkan dari model pembelajaran POEW dan model pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Konstruktivistik. Oleh karena itu, <em>Blended Learning </em>digunakan untuk mensintesis pembelajaran tatap muka dan pembelajaran berbasis online menjadi satu campuran yang terintegrasi sehingga dapat menciptakan dampak yang tinggi, efisien, dan menarik. Secara praktis, <em>blended learning</em> berarti bahwa pembelajaran (pembelajaran tatap muka dalam kelas) juga dilengkapi dengan format elektronik lainnya (<em>e-learning</em>) untuk membuat suatu program pembelajaran yang optimal. Hal ini disebabkan karena pemanfaatan <em>E-Learning </em>sangat diunggulkan dibanding dengan Pembelajaran Konvensional secara tatap muka.</p>
This study explores the effect of problem-based learning on students' lateral thinking skills in biology subjects, the concept of environmental change. This quantitative research uses a quasi-experimental model with a pre-test post-test control group design. The population in this study were students of class X MIPA Integrated High School Riyadlul Ulum academic year 2018/2019. The sample used was 2 classes consisting of 64 students taken using the cluster random sampling technique. The lateral thinking skills test includes four lateral thinking factors, namely recognizing the dominant ideas of the problem, looking for different ways of looking at things looking for different ways of looking at things, loosening rigid ways of thinking and using random ideas to generate new ideas. Test is organized in essay consisting of 20 items. Data on lateral thinking skills were obtained from the pre-test and post-test scores. Result of the research concludes that there is a significant influence of PBL model on students' lateral thinking ability. Of the four lateral thinking factors that was studied, the factor recognizes the dominant idea of the problem became the factor whose average score is the most different between the PBL group and the non-PBL group.
Abstrak . Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya kemampuan komunikasi matematis dan self-efficacy siswa SMP. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Self-efficacy terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah SMPN 41 Bandung, Sampel dipilih secara acak diperoleh kelas IX dalam satu kelas di SMPN 41 Bandung sebanyak 30 siswa. Pengumpulan data penelitian, siswa diberi 2 buah instrumen penelitian yaitu instrumen tes dan instrumen non tes. Instrumen tes berupa 7 buah soal uraian kemampuan komunikasi matematis, sedangkan instrumen non tes berupa angket Self-efficacy yang terdiri dari penyataan positif dan pernyataan negatif. Data tersebut diuji regresi dan korelasinya. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa Self-efficacy berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa SMP, dengan persamaan regresi Y = 0,347X – 10,255 menunjukkan pengaruh yang positif, serta tingkat keeratan yaitu koefisien korelasi pearson sebesar 0,776 tergolong dalam interpretasi kuat positif. Rekomendasi dari penelitian ini, guru sebaiknya merancang proses pembelajaran yang dapat meningkatkan self-efficacy siswa agar kemampuan komunikasi siswa semakin meningkat. Kata Kunci . Komunikasi Matematis, Self-Efficacy
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hambatan yang dialami siswa dalam pembelajaran online selama periode pandemi Covid-19. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilakukan di SMA KP Cikalongwetan dengan melibatkan 26 siswa sebagai responden. Dalam penelitian ini instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diberikan kepada siswa secara online melalui whatsapp yang disebarkan melalui Google Form. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan yang paling sering dialami oleh mahasiswa adalah fasilitas dan jaringan internet. Belum semua siswa memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran online, apalagi dengan jaringan internet yang buruk sehingga menyulitkan siswa untuk mengikuti pembelajaran online yang harus selalu terkoneksi dengan internet. Selain penyampaian materi, guru dituntut lebih kreatif agar tidak memicu kejenuhan dan kemalasan dalam proses pembelajaran online. Komunikasi siswa yang terbatas dengan guru menyebabkan mereka sulit memahami materi.
This study investigates the use of ToonDoo as media technology for teaching English short story. ToonDoo as the newest technology for creating comic or picture story is very beneficial helping teacher to creatively provide innovative strategy providing better classroom environment for the English learners, especially for those studying English short story. As the invented prose narrative shorter than a novel dealing with a few characters, short story can give an important content raising cultural awareness, linguistic awareness, motivation, and is claimed to improve all four skills. Therefore, this study aims at knowing how the implementation of ToonDoo in teaching English short story and finding out the benefits of this tool for teaching performance. To gain the data, reflective journal created by a pre-service teacher who becomes the participant of the study and interview were used to reflect the process of creating Toondoo and the process of teaching English short story using this tool. The findings showed that this tool can be used to promote students� speaking skill. Toondoo is very helpful to facilitate students� imagination promoting their speaking ability, producing better learning experience, and creating a good classroom atmosphere.
This paper analyzes the non-performing loan and its determinant. Using the monthly data of Islamic banks during 2010-2012, this paper found that size and efficiency of the banks do not affect the non-performing loan. On the other hand, GDP and inflation negatively affect the non-performing loan, while the liquidity of the bank positively affects the non-performing loan. The liquidity of also does not mediate the relationship between the size of the bank, their efficiency, the GDP and the inflation to the non-performing loan. Keywords: non-performing loan, liquidity, bank size, efficiency, sobel test, Islamic bank. JEL Classification: C12, G21