Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
UniversityPadangsidempuan, Indonesia
Research output, citation impact, and the most-cited recent papers from Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Indonesia). Aggregated across the NobleBlocks index of 300M+ scholarly works.
Top-cited papers from Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Starting from the assumption that an educator-centered approach has many weaknesses. Meanwhile, the student-centered approach, the role of the teacher is to help students find facts, concepts, or principles for themselves. Therefore, to refer to learning efforts towards the formation of creative, interactive, innovative and inspiring student characters in the classroom learning process, the implementation of innovative based learning models is required. It is time for teachers to implement student-centered learning models as one of the learning innovations that make students the center of education. Innovative learning models are expected to enable students to develop their potential, and their ability to develop society, nation and country.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi implementasi pembelajaran daring dirumah pada siswa Sekolah Dasar akibat dari adanya pandemik COVID-19. Penelitian menggunakan penelitian kepustakaan dimana dalam mengumpulkan informasi data dengan teknik dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal yang relevan dari berbagai macam yang ada di perpustakaan seperti dokumen, buku, majalah, berita. Kriteria artikel dan berita yang dipilih yaitu adanya pembahasan tentang dampak COVID-19 dan pembelajaran daring di sekolah dasar. Dari 15 sumber yang didapatkan, kemudian dipilih yang paling relevan dan diperoleh 4 artikel dan 7 berita yang dipilih. Hasil dalam penelitian, menunjukkan bahwa dampak COVID-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di sekolah dasar dapat terlaksanakan dengan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil data 4 artikel dan 7 berita yang menunjukan bahwa dampak COVID-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di SD dapat terlaksana dengan cukup baik apabila adanya kerjasama antara guru, siswa dan orang tua dalam belajar di rumah.
The pandemic of COVID-19 has forced the Indonesian government through its Ministry of Education and Culture to implement policies moving conventional classroom to online classroom. The current study is a collective case study consisting of analysis of survey on students’ perceptions of their online learning during the pandemic. Sixty-six students of English Language Education Study Program at Pamane Talino College of Education (STKIP Pamane Talino) were involved. Their perceptions of their online classroom that were recorded through a survey. The recorded perceptions are in terms of students’ participation, accessibility, material and assignment delivery, and the use of e-learning platforms. The results were then summarized into tables and narrative descriptions. The study identified three major obstacles in conducting online learning in English Language Education Study Program at STKIP Pamane Talino: the first is availability and sustainability of internet connection, the second is accessibility of the teaching media, and the last is the compatibility of tools to access the media. The result of the current study suggests that accessibility is still the major factor influencing the success of online learning. Online learning for English Language Education Study Program at STKIP Pamane Talino, and potentially Indonesia in general, requires some more friendly platforms so that students’ participation can be increased. This is especially for students who reside in rural areas with limited internet connections and other support systems
Esensi merdeka belajar adalah kebebasan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Kebebasan ini tidak dialami guru dan siswa selama ini karena guru lebih mengerjakan adminstrasi pendidikan dan pembelajaran. Guru juga kurang memahami konsep dan perannya dalam kebijakan merdeka belajar. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan tentang konsep dan makna merdeka belajar, peran guru dalam merdeka belajar. Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan. Analisis konten digunakan untuk menganalisis data penelitian. Hasil penelitian ini adalah (1) merdeka belajar meliputi 4 kebijakan yaitu ujian sekolah berstandar nasional dilaksanakan oleh pihak sekolah, asesmen kecakapan minimum dan survei karakter, penyederhanaan RPP, sistem zonasi penerimaan siswa baru; (2) makna merdeka belajar meliputi merdeka berpikir, merdeka berinovasi, belajar mandiri dan kreatif, merdeka untuk kebahagiaan; (3) peran guru sangat bervariasi meliputi fasilitator pembelajaran merdeka belajar, guru inovatif dan kreatif, guru berkarakteristik sebagai guru, dan guru penggerak. Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman makna merdeka belajar dan peran guru dalam merdeka belajar membantu guru dan siswa lebih merdeka dalam berpikir, lebih inovatif dan kreatif, serta bahagia dalam kegiatan pembelajaran.
This research based on the low level of commitment in religion, who adhere to the religion but life has not been a truth values recommended in religion, or simply follow family tradition and friends without rationally as a principle. This study aimed to obtain the effectiveness theistic guidance strategy for developmental of teenagers religiosity in grade X of SMA Nugraha Bandung Academic Year 2014/2015. (1) describe the effectiveness of guidance theistic strategies for the development of religiosity (2) explain the dynamics of religiosity through intervention theistic guidance strategies students of Grade X SMA Nugraha Bandung academic year 2014/2015. This research used a quantitative approach with quasi-experimental research with non-equivalent pretest-posttest control group design. Data was collected by religiosity questionnaires. Study participants were 18 people in each of the experimental and control groups by using purposive sampling technique. The results showed is program interventions of theistic guidance strategies for the development of specific adolescent religiosity was effective to develop students religiosity on dimension religious believe, religious practice, religious experience and religious dimensions consequences. Theistic guidance strategies were not effective for the development of religious dimension of knowledge. The dynamics in religiosity through intervention theistic guidance strategies showed understanding in concept form at beliefe religious dimension, religious practices, and religious knowledge. The dynamics of behavior change interventions religiosity on theistic guidance strategies showed understanding of concepts and applications in everyday life on the religious dimension of religious experiences and consequences. The counselor suggested to understand scientific theistic.
Peran orang tua sangat di perlukan untuk proses pemebalajaran anak selama study from home ini, peran orang tua juga sangat diperlukan utuk memberikan edukasi kepada anak – anaknya yang masih belum bisa memahami tentang pandemi yang sedang mewabah untuk tetap berdiam diri dirumah agar tidak terlular dan menularkan wabah pandemi ini. Orang tua merasa pembelajaran di rumah sangat efektif untuk diterapkan namun bukan berarti pembelajaran di sekolah tidak lebih efektif dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran di rumahTujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui peran orang tua dalam menerapkan pembelajaran di rumah saat pandemi covid 19 yang di fokuskan untuk anak usia 5-8 tahun. Metode penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif fenomenologis, data di peroleh melalui angket, populasi dari penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 5-8 tahun, sampel penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 5-8 tahun di Kabupaten Kuningan. Hasil dari penelitian ini adalah orang tua dapat meningkatkan kelekatan hubungan dengan anaknya dan orang tua dapat melihat langsung perkembangan kemampuan anaknya dalam belajar
ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah pembelajaran berbasis masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebagai akibat dari pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa di salah satu SMK di Kabupaten Garut. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dan diperoleh dua kelas sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa: (1) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional, (2) Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa ketika mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat, kesalahan mentransformasikan informasi, kesalahan keterampilan proses, dan kesalahan memahami soal.ABSTRACTThis research is motivated by the results of previous studies that showed that students' mathematical problem solving ability is not as expected. One lesson to improve mathematical problem solving is based learning problems . The purpose of this study was to determine the increase in students' mathematical problem solving ability as a result of problem-based learning. This study is a quasi-experimental study that applies two problem-based learning and conventional learning. The population in this study were students in one of the vocational schools in Garut. Sampling was done by purposive sampling, and obtained two classes as the study sample. The research instrument used was a test of mathematical problem solving abilities. Based on these results we concluded that: (1) the increase in students' mathematical problem solving ability that gets problem-based learning better than students who received conventional learning, (2) mistakes made by student when working on the problems related to mathematical problem solving ability was a mistake due to carelessness or less closely, tansform fault information, error process skills, and misunderstanding question.Keywords: problem based learning, mathematical problem solving ability
This study was conducted to determine the challenges and opportunities for the use of information technology on online learning in STKIP Agama Hindu Amlapura during the Covid-19 pandemic. By using library research methods and survey methods. The samples used in this study were all college students of STKIP Agama Hindu Semester II and Semester IV. The Covid-19 pandemic give a influenced college in Indonesia including the STKIP Agama Hindu Amlapura with Enforcement of physical distancing policy which then becomes the basis of the implementation of online lectures, by using information technology. The most widely used media in online learning at STKIP Agama Hindu Amlapura are Whatshap group and Google Classroom because these application is very easy to use. But there are some problem such as the lacking facilities. Based on the survey results, 50% of students do not have a laptops, and 80% of students are difficult to get signals and wasteful in using a data plan because many students live far from urban areas. The study was not effective because as many as 61.5% of students stated they never used online learning media before the co-19 pandemic. But the fact by using online learning is a trigger for the acceleration of the process of digital transformation of Indonesian education. Before pandemic some of discourse, supporting policies, and socialization about the era of education 4.0 was not successful. But Covid-19 give an extraordinary impact on digital transformation towards the educational era 4.0.
Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari kita sering jumpai adanya pemfaatan dari perkembangan Teknologi dalam dunia pendidikan, seperti yang sering dilakukan oleh guru atau dosen yaitu mengkombinasikan alat teknologi dalam peroses pembelajaran. Namun demikian, teknologi itu tidak hanya mendatangkan manfaat positif, melainkan juga akan dapat mendatangkan dampak negatif, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak positif dengan semakin terbuka dan tersebarnya informasi dan pengetahuan dari dan ke seluruh dunia menembus batas ruang dan waktu. Dampak negatifnya yaitu terjadinya perubahan perilaku, etika, norma, aturan, atau moral kehidupan yang bertentangan dengan etika, norma, aturan, dan moral kehidupan yang ada pada masyarakat.
Artikel ini menelaah metode pembelajaran dalam pembangunan Pendidikan Merdeka Belajar. Pendidikan Merdeka Belajar merupakan respon terhadap kebutuhan sistem pendidikan pada era Revolusi Industri 4.0. Di era Revolusi Industri 4.0 kebutuhan utama yang ingin dicapai dalam sistem pendidikan atau lebih khusus dalam metode pembelajaran yaitu siswa atau peserta didik yaitu penguasaan terhadap literasi baru. Literasi baru tersebut yaitu. Pertama, literasi data. Kedua, literasi teknologi. Terakhir, literasi manusia. Selain itu, dalam sistem Pendidikan Merdeka Belajar tetap mengutamakan juga pendidikan karakter. Artikel ini menggunakan penelitian pustaka (library research). Dengan sumber data dari jurnal, laporan hasil penelitian, majalah ilmiah, surat kabar, buku yang relevan, hasil-hasil seminar, artikel ilmiah yang belum dipublikasi, narasumber, surat-surat kepustakaan, vidio grafik, dan sebagainya. Maka dalam penelitian ini, metode pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0 dapat menentukan kesuksesan pembelajaran. Dan metode yang digunakan beragam, namun dalam sistem pendidikan merdeka belajar metode Blended Learning sangat ideal sebagai metode pembelajaran. Metode Blended Learning yaitu menggabungkan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual. Dalam penelitian ini menguatkan teori dari Peter Fisk tentang tren kecenderungan pendidikan pada era industri 4.0.
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara variabel sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar dengan hasil belajar kognitif biologi. Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto . Instrumen penelitian berupa angket yang digunakan untuk memperoleh data sikap, kemandirian belajar, dan gaya belajar siswa. Dokumentasi, digunakan untuk memperoleh nilai hasil belajar kognitif biologi. Pengumpulan data sikap, kemandirian, dan gaya belajar siswa dilakukan melalui pemberian angket (kuesioner) kepada siswa. Data hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari nilai ulangan semester. Data dianalisis dengan menggunakan analisis statistik inferensial dengan uji korelasi product moment , regresi sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara: (i) sikap siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,621, (ii) kemandirian belajar siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,579, (iii) gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,577, (iv) sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah pembelajaran berbasis masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebagai akibat dari pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa di salah satu SMK di Kabupaten Garut. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dan diperoleh dua kelas sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa: (1) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional, (2) Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa ketika mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat, kesalahan mentransformasikan informasi, kesalahan keterampilan proses, dan kesalahan memahami soal. This research is motivated by the results of previous studies that showed that students' mathematical problem-solving ability is not as expected. One lesson to improve mathematical problem solving is based learning problems. The purpose of this study was to determine the increase in students' mathematical problem-solving ability as a result of problem-based learning. This study is a quasi-experimental study that applies two problem-based learning and conventional learning. The population in this study were students in one of the vocational schools in Garut. Sampling was done by purposive sampling and obtained two classes as the study sample. The research instrument used was a test of mathematical problem-solving abilities. Based on these results we concluded that: (1) the increase in students' mathematical problem-solving ability that gets problem-based learning better than students who received conventional learning, (2) mistakes made by student when working on the problems related to mathematical problem-solving ability was a mistake due to carelessness or less closely, transform fault information, error process skills, and misunderstanding question.
Artikel ini menelaah metode pembelajaran dalam pembangunan Pendidikan Merdeka Belajar. Pendidikan Merdeka Belajar merupakan respon terhadap kebutuhan sistem pendidikan pada era Revolusi Industri 4.0. Di era Revolusi Industri 4.0 kebutuhan utama yang ingin dicapai dalam sistem pendidikan atau lebih khusus dalam metode pembelajaran yaitu siswa atau peserta didik yaitu penguasaan terhadap literasi baru. Literasi baru tersebut yaitu. Pertama, literasi data. Kedua, literasi teknologi. Terakhir, literasi manusia. Selain itu, dalam sistem Pendidikan Merdeka Belajar tetap mengutamakan juga pendidikan karakter. Artikel ini menggunakan penelitian pustaka (library research). Dengan sumber data dari jurnal, laporan hasil penelitian, majalah ilmiah, surat kabar, buku yang relevan, hasil-hasil seminar, artikel ilmiah yang belum dipublikasi, narasumber, surat-surat kepustakaan, vidio grafik, dan sebagainya. Maka dalam penelitian ini, metode pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0 dapat menentukan kesuksesan pembelajaran. Dan metode yang digunakan beragam, namun dalam sistem pendidikan merdeka belajar metode Blended Learning sangat ideal sebagai metode pembelajaran. Metode Blended Learning yaitu menggabungkan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual. Dalam penelitian ini menguatkan teori dari Peter Fisk tentang tren kecenderungan pendidikan pada era industri 4.0.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam dua siklus pada peserta didik peserta didik kelas III SD Negeri Beji Timur 3 Kota Depok sebanyak 32 orang, terdiri dari 23 Laki-laki dan 9 orang perempuan Mata Pelajaran pelajaran PKn materi Pengamalan Nilai Sumpah Pemuda. PTK ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi, minat, dan hasil Belajar PKn. Hasil kegiatan pembelajaran Prasiklus dengan KKM 70 diperoleh rata-rata 63,00. Peserta didik yang tuntas dalam belajar hanya berjumlah 14 (44%) dan dapat menjawab 9 (23%) peserta didik. Pada Siklus 1 diperoleh rata rata 6859, tuntas 15 (47%) dan tidak tuntas 17 (53%). Hasil pembelajaran pada pengamatan guru hanya 20 peserta didik yang dapat menjawab benar yaitu 63%, sedangkan yang tidak dapat menjawab 12 peserta didik yaitu 37%. Pada siklus 2 nilai rata-rata kelas sebesar 2666.Pesertadidik yang tuntas dalam pembelajaran sebanyak 29 (91%) dan hasil pengamatan yang dapat menjawab sebanyak 32 (100%) peserta didik. Penggunaan model pembelajaran Discovery Learning memberikan pengalaman nyata, berfikir tingkat tinggi, berpusat pada peserta didik, kritis dan kreatif, pengetahuan bermakna dalam kehidupan, dekat dengan kehidupan nyata, adanya perubahan prilaku, pengetahuan. Selain itu hasil belajar peserta didik dapat meningkat
In today's globalized world, the increasing need for English language ability has highlighted the necessity of good language acquisition and communication abilities. Artificial Intelligence (AI) has emerged as a viable aid in the field of education, including language acquisition, as technology advances. This study does a literature review to investigate the function of AI in the development of communication skills in English language learners. The goal of this research is to look at the existing research and literature on the use of AI-based technologies in English language learning environments. The essay opens with an overview of artificial intelligence and its possible uses in education. It then looks into the various methods in which AI might help English language learners strengthen their communication skills, including speaking, listening, reading, and writing. The findings of this literature review suggest that AI has the potential to significantly enhance English language learners' communication skills by providing personalized and interactive learning experiences. However, further research is needed to explore the long-term effects and optimal integration of AI in language learning environments. In conclusion, this article highlights the transformative role of AI in English language education and its potential to address the diverse needs of language learners. By understanding the current state of research and exploring the opportunities and challenges presented by AI in language learning, educators and policymakers can make informed decisions to harness the benefits of AI technology and maximize its impact on developing effective communication skills among English language learners.
<p><em>The purpose of this research are to analyze the critical thinking ability of XA grade student at SMK BIM Ngawi. This research is include of descriptive qualitative research. The subject of research is XA grade at SMK BIM Ngawi. The technique sampling is purposive samping. The technique that use to fix the data is essay written test that developed by critical thinking ability indicator, based on Facione opinion. Based on data analysis critical thinking ability is gotten average explanation score 72% high category, interpretation 63% high category, analysis 31% low category, self regulation 51% category enough, evaluation 46% category enough and inferation 62% high category. The results or research show that almost the students critical thinking ability category enough. That result give an information to the teacher to train the criical thinking ability so can improve the students critical thinking ability more.</em></p>
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan karakter yang dimaksud oleh Kemendikbud. Hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau library research, yakni penelitian yang dilakukan melalui mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan, atau telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya tertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) mencanangkan empat nilai karakter utama yang menjadi ujung tombak penerapan karakter di kalangan peserta didik di sekolah, yakni jujur (dari olah hati), cerdas (dari olah pikir), tangguh (dari olah raga), dan peduli (dari olah rasa dan karsa). Dengan demikian, ada banyak nilai karakter yang dapat dikembangkan dan diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah. Menanamkan semua butir nilai tersebut merupakan tugas yang sangat berat. Oleh karena itu, perlu dipilih nilai-nilai tertentu yang diprioritaskan penanamannya pada peserta didik. Direktorat Pembinaan SMP Kemdikbud RI mengembangkan nilai-nilai utama yang disarikan dari butir-butir standar kompetensi lulusan (Permendiknas No. 23 tahun 2006) dan dari nilai-nilai utama yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum Depdiknas RI (Pusat Kurikulum Kemdiknas, 2009). Dari kedua sumber tersebut nilai-nilai utama yang harus dicapai dalam pembelajaran di sekolah (institusi pendidikan) di antaranya adalah: Religius, jujur, cerdas, berpikir logis, demokratis, tangguh, peduli, dan lain sebagainya.
<p class="normal">Penelitian Tindakan Kelas ini mempunyai tujuan menganalisis penggunaan model pembelajarn <em>Mind Mapping</em> untuk meningkatkan motivasi, minat, dan hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa Kelas IV Sekolah Dasar Tugu Ibu I Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok dengan jumlah peserta didik 22 orang terdiri dari 10 laki – laki dan 12 perempuan. Pada kegiatan Prasiklus diperoleh hasil nilai rata-rata 42,27 siklus 1 adalah 64,55 dan siklus 2 adalah 85,77, 3) Ketuntasan belajar pada Prasiklus adalah 9,10%, siklus 1 adalah 36,36% dan siklus 2 adalah 77,27%. Kemampuan menjawab benar pada Prasiklus adalah 31,82%, siklus 1 adalah 45,45% dan siklus 2 adalah 81,82%. 2). Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe <em>mind mapping </em>dapat meningkatkan minat, motivasi dan hasil belajar peserta didik pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi kegiatan Ekspor dan Impor</p><div><p class="normal"> </p></div>
<p>Pendidikan karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh berbagai personil sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab. Menyikapi pentingnya pendidikan karakter, maka sangat diperlukan pendidikan karakter di sekolah untuk mewujudkan peradaban bangsa dengan memberikan keteladanan dan pembiasaan.<em> </em>Bagian pertama dalam studi ini akan memperkenalkan makna pendidikan karakter, fungsi dan tujuan pendidikan karakter. Bagian kedua akan membahas nilai-nilai pendidikan karakter dan pentingnya pendidikan karakter. Akhirnya, bagian terakhir dari tulisan ini akan menjelaskan tentang implementasi pendidikan karakter di sekolah melalui keteladanan dan pembiasaan.</p>
Wabah Corona Virus Disease atau lebih dikenal dengan nama virus korona atau covid-19 yang pertama kali terdeteksi muncul di cina tepatnya di Kota Wuhan Tiongkok pada akhir tahun 2019, mendadak menjadi teror mengerikan bagi masyarakat dunia, terutama setelah merenggut nyawa ratusan orang dalam waktu yang relatif singkat. Hampir kurang lebih 200 Negara di Dunia terjangkit virus korona termasuk Indonesia. Berbagai upaya dalam rangka pencegahan, pengobatan dan sebagainya pun telah dilakukan dalam mencegah penyebaran virus corona, hingga lockdown dan social distancing di kota-kota besar sudah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus korona. Dalam Islam wabah virus korona ini merupakan sebuah ujian bagi suatu kaum agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Islam juga mengajarkan istilah lockdown dan social distancing dalam rangka pencegahan penularan penyakit, sebagian para ulama menyebutkan Istilah penyakit ini disebut dengan Tho’un yaitu wabah yang mengakibatkan penduduk sakit dan berisiko menular.